Logika dan Manusia


Sebagai manusia, kita selalu dihadapkan pada permasalahan yang tidak pernah selesai. Begitu suatu permasalahan kita selesaikan, muncul lagi permasalahan baru, begitu seterusnya. Begitulah yang kita alami setiap hari kita sehingga tidak pernah berhenti berpikir. Kegiatan berpikir itulah yang menandakan bahwa kita adalah manusia. Seperti yang dikatakan oleh Rene Descartes: "Cogito Ergo Sum" (Aku berpikir, maka aku ada). Ketika Descartes meragukan sesuatu termasuk dirinya, dia tidak ragu bahwa dirinya adalah manusia karena dia berpikir. Jadi berpikir merupakan ciri manusia. Hal ini sesuai dengan pendapat aristoteles bahwa manusia adalah makhluk yang berakal. Man is an animal rational.

Kegiatan berpikir tidak lepas dari kehidupan manusia. Manusia selalu memikirkan segala yang ada di lingkungan sekitarnya. Hasil kegiatan berpikir tersebut diantaranya berupa pengetahuan, ilmu,dan teknologi. Dalam sejarah pemikiran, kita mengenal ahli-ahli pikir, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Einstein dan lain sebagainya. Hasil pemikiran mereka sampai sekarang masih mengandung kebenaran dan dianut oleh semua orang. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, mengapa hasil pemikiran para ahlipikir tersebut mengandung suatu kebenaran yang bisa diterima oleh semua orang. Bagaimanakah cara berpikir mereka?

Para ahli pikir menggunakan penalarannya untuk menangkap segala gejala yang dihadapi. Mereka beranggapan bahwa setiap gejala atau peristiwa yang terjadi itu bukan bersifat kebetulan saja. Mereka tidak mau menerima setiap setiap gejala atau peristiwa serta pengalaman secara pasif reseptif. Mereka memandang bahwa setiap gejala atau peristiwa yang terjadi pasti ada penyebabnya, dan ada kaitannya dengan gejala atau peristiwa yang lain. Oleh kerna itu, mereka ingin mencari dan menyelidiki terus sampai menemukan jawaban dari semua peristiwa tersebut.

Tradisi pemikiran yang dilakukan oleh ahli-ahli pikir tersebut adalah pemikiran yang didasarkan baik pada kaidah-kaidah maupun hukum-hukum berpikir yang benar. Penggunaan kaidah-kaidah berpikir yang benar memungkinkan mereka bisa menemukan kebenaran yang hakiki. Sama halnya dengan para ahli pikir, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, dan kita juga berpikir dan memikirkan sesuatu.

Apakah pemikiran kita benar? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa pendapat seseorang benar, sedankan pendapat orang lain salah? Semua pertanyaan itu akan kita peroleh jawabannya dengan logika.

A. Pengertian Logika

Secara etimologi, logika berasal dari bahasa Yunani, Logos (kata benda) dan Logike (kata sifat dari kata Logos). Logos berarti perkataan, alasan, uraian, pemikiran. Kemudian, kata Logos itu sendiri banyak dipakai dalam berbagai ilmu pengetahuan. Kata Logos dalam ilmu memberi batasan tentang penyelidikan yang sistematis untuk memperoleh hukum-hukum atau prinsip-prinsip universal, yang sesuai dengan ukuran rasio yang sehat dan prosedur eksperimental unuk mencapai tujuan ilmu. kata Logos di sini memberi arti bahwa dalam setiap ilmu harus memperhatikan kaidah-kaidah berpikir yang universal.

Dalam logika, kata Logos dirangkai dengan kata scientia yang artinya ilmu sehingga menjadi scientia logika yang berarti ilmu berpikir. Namun, dalam perkembangannya, kata scientia logika hanya disebut logika saja. Jadi secara sederhana diartikan sebagai ilmu berpikir. Lalu berpikir yang bagaimanakah yang dimaksudkan dalam logika?

Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang terjadi dalam kehidupan batin. Berpikir adalah suatu proses mencari jawaban atas suatu pertanyaan yang telah dirumuskan. Tujuan berpikir adalah untuk memperoleh jawaban atas suatu pertanyaan. Jawaban yang dicari adalah jawaban yang benar, yang sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Dengan kata lain, berpikir adalah kegiatan mental yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan atau kebenaran. Berbagai kegiatan mental itu sulit dibedakan. Namun, perlu dibedakan dengan kegiatan mental yang lain seperti yang melibatkan perasaan supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman.

Pemikiran yang tidak dapat membedakan dengan jelas antara fakta dengan keinginan sehingga kenyataan yang masih diharapkan sebagai kenyataan yang sudah ada, disebut khayalan (wishful thinking). Pemikiran yang seperti itu tidak akan memberi pengetahuan atau kebenaran.

jadi jelas bahwa setiap orang bisa berpikir namun belum tentu berpikir secara benar, oleh karena itu, diperlukan logika agar kita bisa berpikir yang benar sehingga dapat menghasilkan pengetahuan atau kebenaran. Jadi, Logika adalah ilmu yang mempelajari asas-asas dan aturan-aturan penalaran dengan tujuan mendapat kebenaran yang tepat sebagai proses penalaran supaya dapat memperoleh kesimpulan yang benar. meskipun begitu, tidak cukup hanya memahami definisi logika tapi memahami kaidah-kaidah berpikir dalam logika. 

B. Manfaat Logika

- Meningkatkan Daya nalar

Setiap oarang memiliki kemampuan untuk berpikir logis. Kemampuan itu akan berkembang hingga mencapai usia dewasa. Namun, tidak perlu diragukan lagi bahwa daya nalar seseorag dapat di tingkatkan dengan belajar logika secara sungguh-sungguh karena dengan mempelajari logika kita dapat menyadari kaidah-kaidah logika untuk menghindari kesalahan dalam berpikir atau bernalar. 

- Upaya Mengembangkan Diri 

Ada sebuah ungkapan yaitu "Man is an animal rational" (manusia adalah binatang yang rasional). Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan manusia dengan binatang terletak pada rasionalisasinya, yaitu kemampuan untuk memberi alasan, baik dalam berpikir maupun berbuat.Kemampuan manusia memang tidak hanya ditandai oleh rasionalitas, tetapi juga sekaligus irrasionalitas. 

-Sikap Kritis

Meningkatnya daya nalar ditandai dengan sikap yang semakin kritis. Sikap kritis merupakan kecenderungan batin untuk mempertimbangkan sedalam-dalamnya setiap gagasan yang dijumpai. Sikap kritis ditandai dengan kemauan mempertanyakan berbagai informsi atau berita yang diterima. 

Ada sebuah ungkapa yaitu "Barang siapa yang sungguh-sungguh mencintai kebenaran, ia tidak gampang mengakui suatu pendapat sebagai kebenaran". Setiap gagasan yang kita jumpai harus dipertimbangkan kebenarannya. Setiap gagasan perlu diuji, apakah gagasan tersebeut sesuai dengan kenyataan atau hanya khayalan belaka. 

Sikap kritis tidak hanya diterapkan pada gagasan atau keyakinan orang lain, tapi juga diterapkan terhadap gagasan atau keyakinan sendiri. orang yang memiliki sikap kritis tidak hanya melakukan krtik tetapi juga menerima kritik dari siapapun.  

C. Ruang Lingkup Logika

- Penalaran 

Penalaran merupakan seperangkat gagasan yang di dalamnya terdapat kesimpulan dan alasan-alasan yang dijadikan sebagai titik tolaknya. ketika seseorang melakukan penalaran, ia membuat kesimpulan atas dasar pernyataan-pernyataan atau fakta-fakta yang dijadikan alasan. Serangkaian proses penalaran yang meliputi kesimpulan dan alasan disebut argumen.

Logika sebagai suatu ilmu mengkaji apakah penalaran yang dilakukan seseorang itu sehat atau tidak, dalam arti apakah dalam melakukan penalaran sudah menggunakan kaidah-kaidah berpikir yang rasional.

- Menyelidiki secara rasional tentang penalaran

Logika tidak hanya menerapkan penalaran dalam penyelidikannya, tetapi penalaran itu sendiri dijadikan sebagai objek penyelidikannya. Di sinilah keistimewaan logika  apabila dibadingkan dengan ilmu yang lain. Dalam logika kita berpikir dalam berpikir. Logika memikirkan bagaimana seharusnya orang melakukan kegiatan berpikir.

Meskipun setiap orang berpikir, namun kegiatan berpikir itu bisa saja salah paham tentang kenyataan. Padahal pemahaman tentang kenyataan itulah yang menjadi pedoman untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul sepanjang hidup kita.

D. Logika dan Bahasa

Sebagaimana yang diketahui bahwa logika itu berpikir tentang berpikir. Sementara, bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan, dan mengomunikasikan pikiran. karena itu, logika dan bahasa memiliki hubungan. kita tidak bisa mengetahui pikiran seseorang jika tidak mengungkapkan dalam bahasa. kita juga tidak bisa mempelajari dan mengkaji penlaran seseorang jika tidak diungkapkan dalam bahasa. Bagaimanapun jika ingin mengungkapkan pikiran dan mengomunikasikan atau menyampaikan pikirannya menggunakan bahasa, baik secara lisan ataupun tulisan maupun isyarat.

Apa yang diungkapkan manusia tidak semuanya berupa pikiran, tetapi juga perasaan, emosi, serta harapan. Oleh karena itu, sebagai alat, bahasa mempunyai beberapa fungsi antara lain: fungsi ekspresif, fungsi komunikatif, fungsi deskriptif, dan fungsi argumentatif. Di antara fungsi-fungsi tersebut yang ada kaitannya dengan logika adalah fungsi deskriptif dan argumentatif karena kedua fungsi tersebut bisa menilai benar salahnya. Sementara itu, fungsi ekspresif dan komunikatif tidak bisa menilai benar salahnya.

E. Perlunya Logika

- Logika sebagai ilmu akan membawa kepada prinsip-prinsip pemikiran yang benar.
Meningkatkan kemampuan penalaran sehingga dapat membedakan bukti yang benar dan salah.
- Menyadarkan untuk waspada terhadap bukti dan alasan yang diajukan 
- Menimbulkan sikap kritis.
- Memahami arti kata dari setiap tulisan
- Menyadarkan adanya perwujudan arti dalam kata-kata/bahasa.
- Menjawab persoalan-persoalan ilmiah.