Penulis : Fukron al Fajar
Banyak dari apa yang berjudul agama termasuk dalam superstruktur, agama terdiri atas tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk yang menginterpretasikan eksistensi mereka, akan tetapi karena agama juga mendukung komponen ritual maka sebagian agama tergolong dalam struktur sosial.
Agama yang dogmatis, ortodoks, dan taat, bertoleransi sangat signifikan dengan gangguan emosional orang umumnya menyusahkan dirinya dengan sangat mempercayai kemestian, keharusan dan kewajiban yang absolut.
Orang sehat secara emosional bersifat lunak, terbuka, toleran, dan bersedia berubah, sedang orang yang sangat religius cenderung kaku, tertutup, tidak toleran dan tidak mau berubah, karena itu ketaatan dalam berbagai hal sama dengan pemikiran tidak rasional dan gangguan emosional, oleh karena itu agama kelihatan seperti paksaan dan agama kelihatan bukan sebuah kebutuhan, padahal agama itu sebuah kebutuhan.
A. Pengertian Agama
Pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasaan (etimologi) dan sudut istilah (terminologi). Mengartikan agama dari sudut kebahasaan akan terasa lebih mudah daripada mengartikan agama dari sudut istilah karena pengertian agama dari sudut istilah ini sudah mengandung muatan subjektivitas dari orang yang mengartikannya.
James H Leuba berusaha mengumpulkan semua definisi yang pernah dibuat tentang agama, tak kurang dari 48 teori. Namun, akhirnya ia berkesimpulan bahwa usaha untuk membuat definisi agama itu tidak ada gunanya karena hanya merupakan kepandaian bersilat lidah. Mukti Ali, pernah mengatakan, barangkali tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan definisi selain dari kata agama.
Sastrapratedja mengatakan bahwa salah satu kesulitan untuk berbicara mengenai agama secara umum ialah adanya perbedaan-perbedaan dalam memahami arti agama, disamping adanya perbedaan juga dalam cara memahami serta penerimaan setiap agama terhadap suatu usaha memahami agama. setiap agama memiliki interpretasi diri yang berbeda dan keluasan interpretasi diri itu juga berbeda-berbeda.
Sampai sekarang perdebatan tentang definisi agama masih belum selesai, hingga W.H. Clark mengatakan bahwa tidak ada yang lebih sukar daripada mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk membuat definisi agama, karena pengalaman agama adalah subjektif, internal, dan individual, dimana setiap orang akan merasakan pengalaman agama yang berbeda dari orang lain.
Agama dari segi bahasa berasal dari bahasa sansekerta terdiri dari dua kata, "a"= tidak dan "gam" = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Agama dalam bahasa semit dikenal dengan kata din yang berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, dan kebiasaan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang di dalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut agama yang bersangkutan. Agama dalam bahasa latin dikenal dengan kata religi, kata religi berasal dari kata relegere yang mengandung arti mengumpulkan dan membaca. Pengertian demikian itu juga sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca.
Dari beberapa definisi secara bahasa tersebut, akhirnya Harun Nasution menyimpulkan bahwa intisari yang terkandung dalam istilah-istilah tersebut ialah ikatan. Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera.
Definisi Agama dapat dikemukakan oleh beberapa ahli sosiologi, menurut Elizabet K. Nottingham dalam bukunya Agama dan Masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gejala yang begitu sering terdapat di mana-mana sehingga sedikit membantu usaha-usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Lebih lanjut Nottingham mengatakan bahwa agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaan alam semesta. Agama telah menimbulkan khayalnya yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain.Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri. Sementara itu Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah pantulan dari solidaritas sosial. Bahkan, kalau dikaji, katanya, Tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat.
Pengertian agama di atas sudah pasti tidak akan mendapatkan kesepakatan dan hal ini sudah dapat diduga sebelumnya. Bahwa kita sulit sekali bahkan mustahil dapat menjumpai definisi agama dengan tepat yang dapat diterima semua pihak. Ahli sosiologi berusaha mendefinisikan agama, namun definisi agama menurut ahli sosiologi ini bertitik tolak dari agama yang dipraktikkan, dihayati, dan diamalkan dalam masyarakat.
Definisi agama yang mereka bangun bertolak dari bentuk forma yang tampak dari agama, dan bukan dari substansi yang merupakan inti. Ahli sosiologi mendefinisikan agama dari kenyataannya bersifat lahiriah dan bukan dari aspek batiniahnya. Definisi agama yang dibangun oleh ahli sosiologi bertolak dari das ein, yakni agama dipraktikkan dalam kenyataan empirik yang terlihat, dan bukan berangkat dari das sollen, yakni agama yang seharusnya dipraktikkan dan secara normatif teologis sudah pasti baik adanya. Agama dalam kenyataan ini bisa jadi berbeda dengan agama yang terdapat pada aspek batinnya yang bersifat substantif.
Apa yang dikemukakan bukan bermaksud agar kita tertutup dari pandangan ahli sosiologi. Hasil penelitian ahli sosiologi terhadap agama tetap kita perlukan, karena melalui hasil penelitian mereka itulah kita mengetahui bagaimana agama tampil dalam bentuknya yang nyata. kita mengetahui bahwa substansi dan misi agama akan menjadi aktual ketika agama tampil dalam bentuk yang nyata, bisa dikenali manusia dan lebih jauh lagi adalah bahwa dengan bentuk itu substansi agama menjadi fungsional dan operasional.
Pendekatan perennial terhadap agama, selalu menghubungkan dengan substansinya, yaitu inti ajaran agama yang keberadaannya berada di balik bentuk formanya. Substansi ini bersifat transenden tetapi juga sekaligus imanen. Agama itu transenden, karena substansi agama sulit didefinisikan dan tidak terjangkaui kecuali melalui predikat atau bentuk formanya yang lahiriah. Namun begitu, agama juga imanen karena sesungguhnya hubungan antara predikat dan substansi tidak dapat dipisahkan. Jika substansi agama bisa dibuat hierarki, maka susbstansi agama yang paling primordial hanyalah satu. agama bersifat Perennial, tidak terbatas karena ia merupakan pancaran dari yang mutlak. Ketika substansi agama hadir dalam bentuk yang terbatas, maka sesungguhnya agama pada waktu yang sama bersifat universal dan sekaligus partikular.
Dalam konteks ini Schoun mengatakan, "bahwa setiap agama memiliki satu bentuk dan satu substansi". Bentuk agama adalah relatif, namun di dalamnya terkandung muatan susbstansial yang mutlak. karena agama merupakan gabungan antara substansi dan bentuk, maka agama kemudian menjadi sesuatu absolut tetapi sekaligus relatif, yakni absolut substansinya dan relatif bentuknya. Dengan demikian, definisi agama yang dikemukakan para ahli sosiologi termasuk ke dalam definisi yang bersifat relatif dilihat dari segi bentuknya, sedangkan absolut dilihat dari segi substansi yang terkandung di dalamnya.
Harun Nasution mengatakan bahwa Agama dapat diberi definisi sebagai berikut: 1) Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan ghaib yang harus dipatuhi; 2) Pengakuan terhadap adanya kekuatan ghaib yang menguasai manusia; 3) Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia; 4) Kepercayaan pada suatu kekuatan ghaib yang menimbulkan cara hidup tertentu; 5) Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan ghaib; 6) Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan ghaib; 7) Pemujaan terhadap kekuatan ghaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan msiterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia; 8) Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang utusan.
Taib Thahir Abdul Mu'in mendefinisikan agama sebagai suatu peraturan aturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk dengan kehendak dan pilihannya sendiri mengikuti peraturan tersebut, guna mencapai kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat.
Berdasarkan uraian tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa agama adalah ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci turun temurun diwariskan oleh suatu generasi ke generasi dengan tujuan untuk memberi tuntunan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yang di dalamnya mencakup unsur kepercayaan kepada kekuatan gaib yang selanjutnya menimbulkan respon emosional dan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup tersebut bergantung pada adanya hubungan yang baik dengan kekuatan ghaib tersebut.
B. Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama
1. Latar Belakang Fitrah Manusia
Dalam Bukunya berjudul Pespektif Manusia dan Agama, Murthada Muthahhari mengatakan, bahwa di saat pembicaraan tentang para nabi, Imam Ali menyebutkan bahwa mereka diutus untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Perjanjian itu tidak tercatat di atas kertas, tidak pula diucapkan oleh lidah, melainkan terukir dengan pena ciptaan Allah di permukaan kalbu dan lubuk fitrah manusia, dan diatas permukaan hati nurani serta di kedalaman perasaan batiniah.
Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut buat pertama kali ditegas dalam agama, yakni bahwa agama merupakan kebutuhan fitrah manusia. Sebelumnya, manusia belum mengenal kenyataan ini,baru pada masa ini, muncul beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkannya. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada agama.
Adanya potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis dari istilah Insan, Musa Asy'ari sampai pada suatu keimpulan, bahwa manusia insan adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya. Manusia insan secara kodrati sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya sudah dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya. Musa Asy'ari mengatakan bahwa pengertian manusia yang disebut insan, dipakai untuk menunjukkan lapangan kegiatan manusia yang amat luas adalah terletak pada kemampuan menggunakan akalnya dan mewujudkan pengetahuan konseptualnya dalam kehidupan konkret.
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat dilihat melalui bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan, sungguhpun Tuhan yang mereka percayai itu terbatas pada daya khayalnya.
Terdapat beberapa hipotesis yang diajukan mengenai pertumbuhan agama pada manusia. Sebagian hipotesis mengatakan bahwa agama adalah produk rasa takut. Lucterius, seorang filsuf dari Yunani mengatakan bahwa nenek moyang pertama para dewa ialah dewa ketakutan. Hipotesis lainnya mengatakan bahwa agama adalah produk kebodohan, sebagian orang percaya bahwa faktor yang mewujudkan agama adalah kebodohan manusia, sebab manusia, sesuai dengan wataknya selalu cenderung untuk mengetahui sebab-sebab dan hukum-hukum berlaku atas alam ini serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya, tidak dapat dikenali sehingga dinisbahkan kepada hal-hal yang bersifat metafisis. Hipotesis lainnya mengatakan bahwa motivasi keterikatan manusia kepada agama adalah pendambaannya akankeadilan keteraturan, yaitu ketika manusia menyaksikan kezaliman dan tiadanya keadilan dalam masyarakat dan alam. Hipotesis lainnya tentang agama pada kaum Marxisme, mereka percaya bahwa agama diwujudkan agar kelas penindas tetap dapat mempertahankan keistimewaan, kedudukan, dan kekuasaannya di kalangan bangsa-bangsa.
Beberapa hipotesis telah banyak dibuktikan gagal oleh para ahli, karena dasar hipotesis tersebut adalah pemikiran manusia yang terbatas. Hipotesis tersebut sekedar menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi beragama, namun potensi tersebut jika tidak diarahkan akan keliru hasilnya sebagaimana terlihat pada beberapa hipotesis tersebut. Hal ini tidak berarti akal manusia tidak ada manfaatnya, melainkan menunjukkan bahwa dalam hal beragama akal tidaklah cukup.
Gejala-gejala kejiwaan yang bersifat keagamaan memiliki berbagai kepribadian dan khasiat (karakteristik) yang tidak selaras dengan semua gejala umum kejiwaan manusia. Alexis Carell, salah seorang pemenang hadiah nobel berpendapat bahwa doa merupakan gejala yang paling agung bagi manusia, karena pada keadaan itu jiwa manusia terbang melayang kepada Tuhan, Berlanjut ia mengatakan bahwa pada batin manusia ada seberkas sinar yang menunjukkan kepada manusia kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang kadang-kadang dilakukannya. Sinar inilah yang mencegah manusia dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan penyimpangan. Lebih lanjut ia mengatakan, adakalanya manusia, pada beberapa keadaan ruhaniahnya, merasakan kebesaran dan keagungan ampunan Tuhan. Selanjutnya, Albert Einstein menyatakan adanya bermacam-macam kejiwaan yang telah menyebabkan pertumbuhan agama. Demikian pula bermacam-macam faktor telah mendorong berbagai kelompok manusia untuk berpegang teguh pada agama.
Latar belakang perlunya manusia pada agama adalah manusia sudah terdapat potensi untuk beragama. Potensi beragama ini memerlukan pembinaan, pengarahan, pengembangan, dan seterusnya dengan cara mengenalkan agama padanya.
2. Kelemahan dan Kekurangan Manusia
Faktor lainnya yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Dalam literatur teologi Islam, berdasarkan pandangan kaum Mu'tazilah yang rasionalis, karena banyak mendahulukan pendapat akal dalam memperkuat argumentasinya daripada pendapat wahyu. Namun demikian, mereka bersepakat bahwa manusia dengan akalnya memiliki kelemahan. Akal memang dapat mengetahui yang baik dan yang buruk, tetapi tidak semua yang baik dan buruk dapat diketahui akal. Dalam hubungan inilah, kaum Mu'tazilah mewajibkan pada Tuhan agar menurunkan wahyu dengan tujuan agar kekurangan yang dimiliki akal dapat dilengkapi dengan informasi yang datang dari wahyu (agama). Dengan demikian, Mu'tazilah secara tidak langsung memandang bahwa manusia memerlukan wahyu.
3. Tantangan Manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehingga upaya mengagamakan masyarakat menjadi penting.