Penulis : Fukron al Fajar
Filsafat bukanlah ilmu biasa yang puas dengan fakta, melainkan terus berupaya untuk mengetahui hal-hal yang di seberang fakta. Karena itu sejarah filsafat adalah sejarah pemikiran-pemikiran tentang esensial (menyentuh hakikat kenyataan), fundamental (menyentuh dasar kenyataan), dan radikal (menyentuh akar kenyataan). Filsafat dianggap sebagai pengetahuan murni yang lepas dari keterlibatan praktis para pemikirnya. Filsafat adalah bentuk-bentuk pengetahuan yang berkaitan dengan bentuk-bentuk kehidupan, zaman berubah filsafat pun berubah, bukannya tanpa kaitan dengan perubahan praktik-praktik baru dalam kehidupan bermasyarakat. Filsafat modern tidak bisa kita pahami dalam kekosongan, sebab filsafat, betapapun murni dan transendentalnya, dihasilkan oleh para pemikir yang hidup dalam semangat zaman tertentu.
Modern berasal dari bahasa latin yaitu "Moderna" yang berarti "Sekarang", "baru", dan "Saat Kini". Pada dasar pengertian asli ini kita kita bisa mengatakan bahwa manusia senantiasa hidup pada zaman "modern". Banyak ahli sejarah menyepakati bahwa sekitar tahun 1500 adalah hari kelahiran jaman modern di Eropa. Lalu, pernyataan ini tidak menyiratkan bahwa sebelumnya orang tidak hidup di masa kini. Lebih tepat mengatakan bahwa sebelumnya orang-orang kurang menyadari bahwa manusia bisa mengadakan perubahan-perubahan yang secara kualitatif baru. Oleh karena itu "modernitas" bukan hanya menunjuk pada periode, melainkan juga suatu bentuk kesadaran yang terkait dengan kebaruan. Karena itu, istilah perubahan, kemajuan, revolusi, pertumbuhan adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern.
Sebagai bentuk kesadaran, modernitas dicirikan oleh tiga hal, yaitu: subjektivitas, kritis, dan kemajuan. Dengan subjektivitas dimaksudkan bahwa menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang yang menjadi ukuran segala sesuatu. Ilustrasi berikut mungkin dapat memperjelas konteks lahirnya subjektivitas modern. Dalam karyanya termasyhur Die cultur der Renaissance in Italien (kebudayaan Renaisans di Italia, 1859) sejarawan Swiss, Jacob Burckhardt, menjelaskan bagaimana manusia dalam masyarakat abad pertengahan lebih mengenali dirinya sebagai ras, rakyat, partai, keluarga, atau kolektif. Lewat modernisasi yang dimulai di Italia pada zaman Renaisans manusia lebih menyadari dirinya sebagai individu.
Di dalam filsafat kita mendengar pernyataan Descartes yang sangat termasyhur, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Pernyataan itu adalah formulasi padat kesadaran zaman modern yang terus dipertahankan bahkan sampai abad ke-20 ini bahwa manusia bisa mengetahui kenyataan dengan rasionya sendiri.
Elemen selanjutnya adalah kritik. Kritik sudah implisit dalam pengertian subjektivitas itu, sejauh dihadapkan dengan otoritas. Dengan kritik dimaksudkan bahwa rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi kemampuan praktis untuk membebaskan individu dari wewenang tradisi atau untuk menghancurkan prasangka-prasangka yang menyesatkan. Kant merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di luar tuntutan tradisi atau otoritas. Dia sendiri mengatakan "terbangun dari tidur dogmatis", yaitu: kemampuan kritis rasio membuatnya bebas dari prasangka-prasangka pemikiran tradisional.
Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengandaikan keyakinan akan kemajuan. Dengan kemajuan dimaksud kan bahwa manusia menyadari waktu sebagai sumber langka yang tak terulangi. Waktu dialami sebagai rangkaian peristiwa yang mengarah pada satu tujuan yang dituju oleh subjektivitas dan kritik itu.
Sebagai suatu "periode" atau zaman, ketiga bentuk kesadaran ini mulai muncul pada abad ke-16 lalu memuncak pada abad ke-18. Kita cukup gampang menerima menerima perbedaan antara cara berpikir abad ke-16 dan seterusnya dengan abad-abad sebelumnya. Pembedaan yang terang itu adalah hasil dari perdebatan yang lama. Karena begitu kabur dan kompleksnya soal periodisasi ini, tidak mengherankan kalau baru pada abad ke-19 para sejarawan sepakat menentukan tanggal lahir modernitas pada abad ke-16, sambil membedakan zaman sebelumnya sebagai "abad pertengahan".
Pemikir para filsuf pada abad ke-16 ini kemudian dicirikan sebagai "modern", karena bukan kebetulan gerakan-gerakan sosial dan penemuan-penemuan itu melahirkan pemikiran-pemikiran yang terpusat pada manusia sebagai subjektivitas, rasio sebagai kemampuan kritis, dan sejarah sebagai kemajuan. Dengan munculnya filsafat-filsafat yang meninggalkan ketiga tema ini, orang mulai ramai membicarakan kelahiran bukan hanya kesadaran baru, tapi juga zaman baru: post-modern. Heidegger menyatakan kesudahan filsafat modern dalam filsafat Nietzsche.