Sejarah Arab Pra Islam

Penulis : Fukron al fajar
Arab pra islam dimulai sebelum masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diutus, sebelum Nabi Muhammad diutus, bangsa Arab sudah ada terlebih dahulu, dan memulai peradaban, baiklah disini akan membahas tentang sejarah Arab Pra Islam. 
Arab Pra Islam

Menurut beberapa penulis sejarah, kata Arab berasal dari kata 'Arubah. Kata ini berasal dari bahasa Ibrani, yang memiliki arti "tanah gelap atau steppa".Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dulu kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya sebagai tempat tinggal.

Ada yang mengatakan dari kata abhar, yang berarti rahlah atau pengembara, selalu berpindah-pindah tempat (nomaden), Justru itu mereka menamai bangsa mereka sebagai bangsa Arab. 

Bangsa Arab bertempat tinggal dan mendiami semenanjung terbesar di dunia, yaitu Semenanjung Arab (Jazirah Arab). Terletak di Asia Barat Daya, luasnya 1.027.000 mil persegi, sebagian besar ditutupi padang pasir dan merupakan salah satu tempat terpanas di dunia. Tidak terdapat sungai yang dapat dilayari atau airnya yang terus menerus mengalir ke laut, yang ada hanya lembah-lembah yang digenangi air di waktu musim hujan.

Semenanjung Arab terdiri atas dua bagian. Pertama, daerah pedalaman, merupakan daerah padang pasir yang kering karena kurang dituruni hujan dan sedikit penduduk karena daerahnya tandus. Kedua, daerah pantai di pinggir laut, di bagian tengah dan selatan, hujan turun teratur sehingga subur ditanami, yaitu daerah Hijaz, Yaman, Hadramaut, Oman dan Bahrain. Di antara daerah itu Yaman yang paling subur, sehingga disebut negeri berkah. 

Berdasarkan letak geografis bangsa Arab ini, mereka yang tinggal di daerah pedalaman disebut penduduk pengembara (ahl al-badwi). Adapun mereka yang tinggal di daerah pesisir disebut penduduk penetap (ahl al-hadhar). 

1. Asal Usul Bangsa Arab

Bangsa Semit awalnya membangun peradaban Mesopotamia, perlahan mereka kehilangan dominasi politik mereka disebabkan serangan dari bangsa nomad Semit dan bangsa non Semit. 

Bangsa Aram, Akkadia, Assiria, dan Minean berbicara dalam bahasa yang hampir sama dengan bahasa Semit. Akhirnya, bangsa Semit kehilangan kekuasaannya tepat pada serangan Persia dan kedatangan bangsa Yunani pada 330 SM.

Setelah penyerangan itu, bangsa Semit berpindah ke segala tempat. Kebanyakan dari suku bangsa ini berpindah ke daerah selatan dan daerah utara, di mana bangsa Arab akan berkembang disana. 

Negeri asli keturunan Qahthan adalah Arab Selatan, di antara mereka ada yang muncul menjadi Raja, seperti Raja Yaman, Raja Saba’ dan Raja Himyar. Tetapi semenjak bendungan Saba’ rusak, di antara mereka ada yang mengembara ke utara dan malahan dapat membentuk kerajaan-kerajaan, seperti Hirah dan Ghasasinah. Termasuk suku Aus dan Khazraj yang mendiami Madinah juga berasal dari suku Qahthan ini.

Pada Perkembangannya bangsa Arab terbagi pada dua kelompok besar
a. Arab Ba'idah yaitu Bangsa Arab yang telah punah. Sejarah mereka telah terhenti bersama dengan punahnya mereka di dunia ini, seperti bangsa 'Ad dan Tsamud. 
b. Arab Baqiyah, yaitu kelompok yang bertahan hingga sekarang, kemudian terdiri dari dua golongan  yaitu:
1) Arab 'Aribah (Arab Asli) yang berasal       dari suku Qahthan. Mereka umumnya tinggal di Yaman dan Arab Selatan. Dua kabilah terbesar kelompok Arab 'Aribah adalah Himyar dan Kahlan. Kabilah Himyar diantaranya memiliki suku-suku besar seperti Zaid Al-Jumhur, Qudh'ah dan Saksik. Adapun kabilah Kahlan terdapat suku Hamadan, Anmar, Thayyi', Madzhaj, Kindah, Lakham, Judzam, Azd, Aus, Khazraj, anak keturunan Jafnah raja Syam dan lain-lainnya. Suku-suku Kahlan banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah menjelang terjadinya banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan.
2) Arab Musta'rabah (Arab Campuran), yaitu  percampuran antara darah Arab asli yang mendiami Makkah dengan darah pendatang, yaitu Nabi Isma’il alaihissalam Salah satu keturunannya adalah Adnan yang menurunkan keturunan beberapa kafilah. Kabilah-kabilah keturunan suku Adnan ini, secara umum mereka tinggal di Hijaz seperti Mekkah,Yastrib dan Thaif. Mereka adalah keturunan Nabi Ismail Alaihisalam. 
2. Politik Bangsa Arab Pra Islam

Terdapat dua Negara adi kuasa pada masa itu, yaitu kerajaan Bizantium Romawi di barat dan kerajaan Persia di
timur. pada masa itu, seluruh Semenanjung  Arab, menikmati kemerdekaan penuh, kecuali daerah utara
(Palestina, Libanon, Yordania dan Syam) berada dibawah kekuasaan Bizantium dan Irak berada di bawah kekuasaan Persia. Mungkin karena kegersangannya, dua negara adi kuasa Bizantium dan Persia tidak tertarik menjajah Arab, kecuali
daerah utara yang tunduk di bawah kekuasaan mereka. 

Bangsa Arab Pra Islam tidak pernah dijajah oleh bangsa asing, bahkan tidak pernah tercipta kesatuan politik di seluruh Jazirah Arab.

Terdapat kerajaan-kerajaan kecil di Jazirah Arab pada umumnya berdaulat atas wilayah mereka yang kecil, seperti Kerajaan Mu'in, Himyar, Saba', Hirrah, Gassan dan Lakhmid. 

Di kalangan orang Arab Badwi tidak ada
pemerintahan. Kesatuan politik mereka bukanlah bangsa, tetapi suku yang dipimpin kepala suku yang disebut Syaikh.
Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Bagi masing-masing suku terdapat seorang pemimpin (Syaikh). dalam memilih pemimpin kriteria yang dipakai adalah pemberani, pemurah, cerdas, arief dan bijaksana.

Karena tidak adanya pemerintahan pusat hubungan antar suku selalu dalam konflik. Peperangan antara suku sering terjadi. Hal-hal yang sepele bisa menimbulkan
peperangan misalnya terkenal peperangan yang terjadi antara Bani Bakr dan Bani Taghlib yang berlangsung selama 40 tahun, disebut perang Basus. Terjadi hanya karena Unta milik anggota salah satu suku dilukai oleh anggota suku lainnya.

Dunia Arab ketika itu merupakan kancah peperangan yang terjadi terus-menerus. Meskipun masyarakat Badwi mempunyai pemimpin, namun mereka hanya tunduk kepada Syaikh itu dalam hal yang berkaitan dengan peperangan, pembagian harta rampasan dan pertempuran tertentu. Di luar itu, Syaikh tidak berkuasa mengatur anggota kabilahnya.

Tidak ada rasa persatuan di kalangan bangsa Arab, bahkan dalam hal hubungan kerjasama hanya didasari kepentingan masing-masing, sehingga bangsa Arab terpecah dalam berbagai kabilah-kabilah dan kerajaan-kerajaan kecil yang memiliki pemerintahan tersendiri. 

3. Sosial Masyarakat Bangsa Arab Pra Islam

Masyarakat Arab Pra Islam merupakan Masyarakat yang feodal dan mengenal sistem perbudakan. Sistem kekerabatannya adalah sistem patrilineal, yaitu hubungan kekerabatan yang berdasarkan garis keturunan bapak.

Wanita kurang dihormati dalam masyarakat, karena wanita hanya sebagai kebutuhan biologis. Dalam peperangan untuk mitra sosial wanita dianggap lemah. Mereka merasa malu jika memiliki anak perempuan, sehingga mengubur bayi perempuan hidup-hidup merupakan sebuah kebiasaan, hanya untuk menjaga martabat dan kehormatan keluarga. 

Lembaga perkawinan tidak teratur. Wanita boleh menikah lebih dari seorang suami (poliandri). Sedangkan wanita bersuami memperbolehkan suaminya berhubungan dengan wanita lain untuk memperoleh keturunan. Ibu tiri kadang - kadang dikawini anak tirinya. Saudara laki-laki terkadang mengawini saudari perempuannya. Gadis-gadis nakal terbiasa
pergi ke daerah-daerah pinggiran untuk bersenang-senang dengan laki-laki lain. 

Bangsa Arab Pra islam gemar berperang, hidup di Jazirah Arab yang gersang dan tandus memerlukan tambahan sumber menunjang kehidupan. Disamping itu, binatang ternak pun memerlukan ladang-
ladang gembalaan. Untuk memenuhi keperluan tersebutnmesti harus menyeberang ke perkampungan orang lain. Namun karena desa lain pun mengalami problem yang sama. Maka jalan satu-satunya adalah perang. Siapa yang kuat dialah yang berhak untuk hidup. Oleh karena itu dalam pandangan bangsa Arab, perang adalah untuk mempertahankan hidup. 

Bangsa Arab Pra Islam dikenal angkuh dan sombong, darah di kalangan masyarakat Arab mempunyai harga yang sangat tinggi. Setiap darah yang tertumpah dari salah satu anggota sukunya menjadi kewajiban bagi seluruh anggota suku untuk menuntut
balas dengan tanpa memperhitungkan apa yang menjadi penyebabnya. Hal ini akibat dari sifat angkuh dan sombong, karena merasa paling hebat.

Bangsa Arab Pra Islam dikenal dengan pemabuk dan penjudi, di kalangan
masyarakat Arab yang kaya, minuman keras dianggap sebagai barang mewah. Bahkan melalui minuman keras
mereka mampu memamerkan kekayaannya. Sedangkan bagi kalangan ekonomi lemah mabuk-mabukan merupakan tempat pelarian untuk melupakan himpitan hidup yang
berat. 

Dengan demikian, moral masyarakat bangsa Arab Pra Islam sangat buruk sehingga menimbulkan sistem hukum rimba; dimana yang lemah akan binasa dan yang kuat akan berkuasa. 

4. Agama Bangsa Arab Pra Islam

Mayoritas bangsa Arab Pra Islam menganut kepercayaan menyembah berhala, sedangkan minoritas di antara mereka ada orang Yahudi di Yatsrib, orang Kristen Najran di Arab Selatan dan sedikit yang beragama Hanif di Makkah.

Agama berhala dibawa pertama kali dari Syam ke Makkah oleh ‘Amru bin Luhay, dan diterima sebagai agama baru oleh Bani Khuza’ah, satu keturunan dengan ‘Amru, di saat itu pemegang kendali Ka’bah. Kemudian agama berhala ini berkembang pesat sehingga menjadi agama mayoritas penduduk kota Makkah. 

Setiap kabilah mempunyai berhala sendiri. Jenis dan bentuk berhala bermacam-macam, tergantung pada persepsi mereka tentang tuhannya. Berhala-berhala tersebut dipusatkan mereka di Ka’bah. Orang Quraisy sebagai penguasa terakhir untuk Ka’bah memiliki beberapa berhala, yang terbesar di antaranya adalah Hubal.

Tiga berhala terkenal yang lainnya adalah al-Lãta terletak di Thaif, al-‘Uzza bertempat Nakhlah sebelah timur Makkah, kedudukannya terbesar kedua di bawah Hubal, dan al-Manãta bertempat di Yatsrib, lebih populer di kalangan suku Aus dan Khazraj. 

Agama Yahudi dibawa masuk ke semenanjung Arab oleh orang Israel dari Palestina. Mereka menetap di Yaman,
Khaibar dan Yatsrib. 

Agama Kristen dianut suku-suku yang terdapat di sebelah utara Jazirah Arab yang dikembangkan pendeta- pendeta kerajaan Bizantium. Di Yaman, sebelah selatan Jazirah Arab terutama Najran terdapat penduduk Arab beragama Kristen. Agama Kristen di sebelah selatan ini datang dari kerajaan Habsyi (Ethiopia).

Sementara itu, terdapat perorangan yang meninggalkan penyembahan berhala serta kebiasaan jahiliyah lainnya, serta percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa serta hari berbangkit. 

Di kalangan orang Badwi, mereka menyembah pohon, bulan dan bintang, sebab menurut mereka kehidupan mereka
diatur oleh bulan dan bintang bukan matahari, bahkan matahari menurut mereka merusak tanaman dan ternak. 

5. Kebudayaan Bangsa Arab Pra Islam

Segi Kebudayaan merupakan cabang paling populer oleh masyarakat bangsa Arab terutama seni sastra. Bangsa Arab dikenal dengan pengelana dan penyair. Syair-syair mereka biasanya berisi tentang Cinta, wanita, khamar, kemegahan suku, dan sebagainya. 

Ciri khas manusia ideal bangsa Arab, adalah “kefasihan lidah, pengetahuan tentang senjata dan kemahiran menunggang kuda”. Maka tidak mengherankan bila seni sastra, terutama puisi sangat berkembang pesat di
kala itu.

Para penyair memiliki kedudukan terhormat di kalangan sukunya. Batapa besarnya peranan yang diemban para penyair, sejarah bangsa Arab dapat diketahui melalui puisi-puisi mereka. Oleh karena itu, para penyair selain pemberi nasehat dan juru bicara sukunya, mereka juga adalah ahli sejarah dan intelektual sukunya.

Syair adalah salah satu seni yang paling indah dan sangat dimuliakan serta dihargai oleh bangsa Arab. Mereka
senang berkumpul mengelilingi para penyair untuk mendengarkan syair-syair mereka. Di sekitar kota Mekkah diadakan pusat keramaian bagi penyair-penyair Arab, yaitu Ukaz dan Zul Majaz. Ditempat itu para penyair membacakan syairnya dan dipertandingkan antara mereka. Bagi yang terbaik mendapatkan "mu'alaqat" sebagai tanda penghargaan.

Mu'alaqat merupakan piagam yang berisi syair sang juara yang ditulis dengan tinta emas dan digantungkan di didinding ka'bah. 

Beberapa penyair terkenal seperti Amrul Qais, Qis bin Sa'adah, Umayyah bin Abi Shalt dan lainnya. 

6. Ekonomi Bangsa Arab Pra Islam 

Pada masa pemerintahan kerajaan Saba’ dan Himyar di Jazirah Arab selatan, kegiatan perdagangan orang Arab
meliputi laut dan darat. Kegiatan perdagangan di laut mereka pergi ke India, Tiongkok dan Sumatera. Kegiatan perdagangan di darat ialah di Jazirah Arab. 

Akan tetapi setelah Yaman dijajah oleh bangsa Habsyi dan bangsa Persia, maka kaum penjajah itu menguasai kegiatan perdagangan di laut, sedangkan perdagangan di darat berpindah ke tangan orang Makkah. 

Ada empat putera Abd al-Manaf yang selalu mengadakan perjalanan dagang ke empat tempat terpenting, yaitu Hasyim mengadakan perjalanan ke negeri Syam, Abd Syam ke Habsyi, Abd al-Muththalib ke Yaman dan Naufal ke Persia. Perdagangan - perdagangan orang Quraisy yang pergi
ke negeri-negeri tersebut mendapat perlindungan dari keempat putera Abd al-Manaf itu, karena itu tidak ada seorangpun yang berani mengganggu mereka.

Dengan demikian, terdapat empat tempat
perdagangan orang Quraisy, yaitu ke utara dan selatan, mereka pergi ke Syam dan Yaman, kemudian ke barat dan timur, mereka pergi ke Habsyi dan Persia. Sedangkan pusat perdagangan mereka berada di Makkah.

Di Yaman, pada musim dingin kafilah dagang bangsa Arab membawa minyak wangi, kemenyan, kain sutera, kulit, senjata, rempah-rempah, cengkeh, palawija dan lain-lain. Di antara barang-barang tersebut ada yang dihasilkan di Yaman, ada pula yang di datangkan dari Indonesia, India dan Tiongkok.

Di Suriah atau Syam, kafilah-kafilah dagang tersebut di atas membawa barang-barang dagangan mereka ke Syam.
Di waktu kembali, kabilah-kabilah itu membawa gandum, minyak zaitun, beras, jagung dan tekstil dari Syam. 

Adapun barang-barang perdagangan terpenting dalam jalur perdagangan timur barat, kabilah-kabilah dagang Arab membawa rempah-rempah dari Habsyi untuk diperdagangkan di Persia, juga mereka berdagang mutiara di Persia yang dikeluarkan dari Selat Persia.

Di Hijaz dan sekitarnya, Yatsrib adalah penghasil kurma yang banyak,  sebaliknya Makkah karena daerahnya bukit-bukit berbatu tidak terdapat banyak korma. Daerah-daerah subur, seperti Yaman, Hadramaut, dan Thaifnmenghasilkan buah-buahan dan sayur- sayuran, juga gandum dan kopi dalam jumlah besar.

Daerah peranian yang paling subur adalah Yaman dan Syam (Suriah). Maka tidak mengherankan bila kedua kota itu menjadi pusat perjalanan dagang orang-orang Arab Pra Islam Mereka pergi ke Yaman di musim dingin dan pergi ke Syam di musim panas.

Hewan utama di Jazirah Arab adalah unta, kuda, domba, dan kambing, tetapi yang paling penting di antaranya adalah unta. Karena unta, selain berfungsi sebagai alat
transportasi juga dijadikan alat tukar: mas kawin, harga tebusan, hasil perjudian bahkan kekayaan, semuanya dihitung dalam jumlah unta. Boleh dikatakan unta menjadi teman abadi orang Badwi, karena air susunya diminum sebagai pengganti air, sebab air dalam musim kering hanya diberikan untuk ternak.

Dagingnya jadi santapan makanan, kulitnya menjadi pakaian, kotorannya dapat dijadikan bahan bakar, bahkan air
kencingnya bila digosokkan ke kulit akan terhindar dari sengatan binatang.
Sedangkan kuda merupakan barang mewah, karena makanan dan pemeliharaannya sulit di padang pasir. Dalam penyerangan-penyerangan gerak cepat dalam peperangan kuda sangat diperlukan. Demikian juga untuk keperluan olahraga dan berburu. Begitu pentingnya kuda bagi orang Arab Badwi, dalam musim kering kesulitan air, jika ada air yang
masih tersisa akan mereka berikan kepada kuda, Begitulah gambaran pentingnya kuda bagi orang Arab.

Dengan Demikian Ekonomi Bangsa Arab Pra Islam bertumpu pada segi pertanian, peternakan dan perdagangan. 

7. Ilmu Pengetahuan Bangsa Arab Pra Islam

Bangsa Arab Pra Islam berkembang sebuah ilmu pengetahuan yaitu Ilmu Nujum, Ilmu Falak dan lain sebagainya. Bagi mereka hal ini berguna untuk menentukan cuaca dan musim. 

Ilmu Arsitek hanya berkembang pada umumnya di Yaman. Di Yaman terdapat kerajaan Saba' yang memiliki bendungan Sadd Al-Ma'arib, yang merupakan peninggalan kerajaan Saba', yang membuktikan kemajuan Ilmu Arsitektur pada masa tersebut. Bendungan ini dibangun pada abad ke 7 SM.